Skip to content
Dec 31 / Khudrizal

G00d Bye 2010, Welcome 2011

Hari ini tepat tanggal 31 desember penghujung hari di tahun 2010. Sudah 27 tahun kujelajahi bumi ini, apa yang saja sudah kubuat, apa saja yang sudah kuraih, n apa saja kontibusiku dalam kehidupan ini sekecil apapun itu kuharap dapat berarti. Tanpa kusadari ternyata Tuhan begitu baik kepadaku, semua target dan cita telah kugenggam berjalan sesuai harapan walaupun hadir tidak tepat pada waktunya tapi yang penting tercapai. Read more…

Dec 22 / Khudrizal

Just For My Mamak…

22 Desember di Indonesia biasa disebut dengan hari Ibu.

Ibu, sosok mulia yang merupakan pembentuk insan-insan yg hebat di muka bumi ini. Tepatlah bila Nabi Muhammad Saw menyabdakan bahwa surga itu terletak dibawah kakinya. Surga, sebuah tempat yang sangat di idamkan dan dicita-citakan oleh seluruh umat beragama. Dalam arti luas surga tidak hanya berada kelak di akhirat (bagi muslim) sebagai janji Tuhan kepada kita yang mengikuti perintah-Nya.
Ibu, sosok mulia ini sudah menjadi surga bagi anak-anaknya, tepatlah kiranya jika beliau kita sebut sebagai surga kita. Tanpa ia kita mungkin takkan ada di muka bumi ini, tanpa kebaikannya kita mungkin takkan bisa sesukses ini, dan tanpa kesabarannya kita juga mungkin takkan memiliki semua yang telah kita miliki.
Ibu, dihari ini anakmu hanya ingin mengucapkan terima kasih atas segala yang telah kau curahkan, dan maafkan segala kekeliruan anakmu yang sering membuatmu sedih. Ibu, sebesar apapun dayaku tak akan pernah mampu membalas jasa-jasamu.

Semoga dipenghujung hidupmu kini engkau bisa menikmati hasil jerih payah dan pengorbananmu buat anakmu ini dan mohon do’a restumu untuk perjalanan hidup anakmu yang insya Allah masih panjang dan do’akan cita-cita terbesar anakmu ini untuk membahagiakan dan mewujudkan mimpimu agar dikabulkan Allah swt.  Selamat Hari Ibu, Mak..

Dec 16 / Khudrizal

Kecanduan Sedekah

Saya tertegun dan manggut-manggut ketika membaca sebuah artikel yang bunyinya begini : Untuk bersedekah sebenarnya gak usah nunggu ikhlas dulu, lakukan aja sesering mungkin. Bisa saja dalam 10 kali kita bersedekah yang 6 tidak ikhlas awalnya tapi masih lumayan ada 4 yang ikhlas. Dan kalo sering bersedekah lama-lama akan jadi kebiasaan sehingga nilai ikhlasnya sudah lebih banyak lagi yang pada akhirnya nanti bersedekah itu sudah menjadi kebiasaan sehari-hari.

Kalo bersedekah ada unsur riya juga lakukan aja, toh yang rugi diri kita sendiri kalo yang menerima sih masih bisa merasakan kebahagian. Lumayan masih bisa tidak merugikan orang lain. Semua kegiatan yang baik memang awalnya harus dipaksa dulu sambil jalan diharapkan kesadaran mulai muncul. Read more…

Dec 7 / Khudrizal

Belajar dari Pengemis

Melihat perilaku peminta-minta sehari-hari terkadang membuat emosi memuncak apalagi yang sempat marah-marah jika tidak diberi. Dengan alasan tidak memiliki pekerjaan atau pada dasarnya mereka yang tidak mau bekerja layak dan telah terinfeksi virus ‘malas’ serta telah ‘kecanduan’ meminta-minta.

Tetapi saya justru menganalisis bahwa sebenarnya mereka itu juga harus bekerja keras mengumpulkan receh demi receh, bersabar menerima penolakan demi penolakan, dan berterima kasih (memberikan reward) setelah diberi, hanya saja mereka mungkin telah terlena dengan kebiasaan itu jadi melupakan unsur kerja kerasnya, jadi kalo mengemis saja harus kerja keras kenapa tidak bekerja normal saja karena kegiatan mengemis merupakan kasta terendah dimata sosial masyarakat. Read more…

Dec 3 / Khudrizal

I hate this Feeling

Sudah beberapa hari ini aku benar-benar tidak mengerti atas apa yang aku pikirkan dan aku rasakan, hufc…benar-benar menyebalkan but this is me apapun yang terjadi tetaplah aku bukan dia atau mereka. Secara mentaly spiritual di awal bulan desember 2010 tepat pada tanggal 1 aku dikejutkan oleh kuasa Tuhan atas apa yang aku usahakan dan kuinginkan dengan hasil yang diluar perkiraanku. Apakah ini menjadi penyebab dari kehebohan pemikiran dan perasaanku entahlah ?? Read more…

Oct 30 / Khudrizal

Ingin Merasakan Tangan Tuhan? Berbisnislah !

Mukjizat merupakan kejadian/kelebihan di luar akal manusia yang tidak dimiliki oleh siapapun, karena mukjizat hanya dimilki oleh para rasul yang diberikan oleh Allah SWT kepada para rasul-Nya. Sedangkan apabila ada seseorang yang memilki sesuatu yang luar bisa itu tidak bisa dikatakan sebagai mukjizat melainkan karomah.(wikipedia.org). Menurut saya mukjizat ataupun karomah adalah keberuntungan yang diberikan Tuhan. Setiap orang pasti pernah mendapatkan keberuntungan di dalam hidupnya otomatis setiap manusia pastilah pernah mendapatkan mukjizat (dalam tulisan ini maksud saya kata mukjizat adalah karomah seperti maksud definisi diatas hanya saja saya lebih suka menggunakan kata mukjizat mohon dimaklumi) artinya wujud bukti keberadaan Sang Khalik benarlah ada kalau kita mau peka merasakan dan menganalisanya.

Setiap orang mungkin memiliki pengalaman hidup yang berbeda-beda mengenai mukjizat yang dirasakannya, melalui tulisan ini saya mencoba menggalinya dari sudut pemikiran dan pengalaman saya pribadi mengenai mukjizat Tuhan kepada saya yang amat terasa sekali bagi saya ketika saya berbisnis dan membuat saya amat merasakan sebagai makhluk yang amat sangat membutuhkan bantuan Tuhan karena keterbatasan saya sebagai makhluk-Nya.

Sebagai makhluk yang paling sempurna dari seluruh ciptaan-Nya, kita manusia dalam menjalani hidup ini memiliki tiga kebutuhan yang harus di penuhi yaitu Pertama, Kebutuhan Materil berupa sandang, pangan dan papan sebagai kewajaran dari bagian makhluk hidup.Kedua, Kebutuhan Sosial, seperti berkasih-sayang, perhatian, penghormatan, dan sebagainya sebagai wujud kebutuhan kita akan manusia lainnya. Dan yang Ketiga, Kebutuhan Spiritual,  yaitu kebutuhan diri kita sendiri dalam mengartikan keberadaan diri kita di dunia ini dan jawaban atas hal-hal yang tidak bisa kita jawab (relationship me and my self) dan pengabdian/penyembehan, untuk hal yang ketiga ini orang cenderung berbeda-beda pandangan.
Perjalanan pencarian jati diri mengenai fungsi dan tujuan hidup inilah yang sering menghantarkan orang kepada pemikiran akan kebutuhan Tuhan, ketika merasakan segala sesuatu yang diingikannya tidak berjalan sesuai kehendaknya, tidak ada yang pasti, dan kekosongan jiwa menghasilkan pembuktian wujud keberadan Tuhan dalam kehidupan manusia.
Dalam dunia bisnis kebutuhan akan Tuhan itu jelas tampak sekali, hampir semua pakar bisnis mensyaratkan kalau mau sukses adalah kerja keras dan rajin berdo’a. Pengalaman yang saya temuipun demikian, dalam bisnis selain kerja keras, inovasi yang tiada henti, strategi pemasaran, berdo’a mendapatkan tempat yang paling penting. Karena semua upaya yang kita lakukan tidak ada yang bisa menentukan hasilnya selain keberuntungan dan keberuntungan tersebut adalah mukjizat sumber mukjizat tiada lain adalah Sang Maha Pemilik dan Pemberi Mukijizat yaitu Tuhan.
Dahulu ketika saya masih menjadi karyawan saya cenderung malas beribadah (sholat wajib 5 waktu), karena saya berfikir saya sholat ataupun tidak toh rezeki saya sama saja (waktu itu saya sering mengidentikkan rezeki sebagai gaji bulanan) mungkin sama dengan pemikiran teman saya yang seorang PNS di pelosok ‘enak loh jadi PNS masuk atau tidak masuk kerja tetap digaji’ (mudah-mudahan tidak ada lagi PNS yang berfikiran seperti ini). Akan tetapi ketika saya memutuskan untuk mengundurkan diri dan ingin berbisnis kecil-kecilan mukjizat Tuhan langsung saya rasakan hanya saja saya tetap belum ‘ngeh’ akan hal itu baru beberapa waktu kemudian barulah saya akui bahwa hidup saya penuh dengan mukjizat.
Memang mukjizat dalam hidup saya tidak hanya terjadi ketika saya berbisnis saja, hampir seluruh hidup saya dipenuhi dengan kemukjizatan  mungkin saya saja yang tidak menyadarinya karena kurang bersyukur. Akan tetapi mukjizat yang terjadi ketika saya berbisnis membuat saya menyadari itu semua dan mengakui kalau saya sangat membutuhkan Tuhan. Seperti yang sudah saya ungkapkan tadi ketika menjadi karyawan saya berfikir sholat atau tidak saya tetap gajian, berbeda dengan sekarang kalau sedikit saya saya lalai beribadah saya merasakan bisnis saya agak lesu dan itu tidak terjadi satu atau dua kali saja kalau mau dibilang kebetulan tetapi amat sering kali terjadi. Mungkin saya salah berfikiran kalau rezeki saya hanyalah uang yang diperoleh akan tetapi dalam konteks ini saya mengajak kita membicara hanya dalam kotak dunia bisnis saja dan dalam dunia bisnis muaranya adalah uang/profit atau kesejahteraan, untuk konteks lainnya mungkin kita bicarakan dalam tulisan saya lainnya.
Sebagai contoh, pernah pada suatu hari (dan ini sering terjadi) saya membuka usaha saya lebih pagi dari biasanya, berusaha untuk promosi sana-sini, menelpon relasi, menurunkan sedikit harga agar barang saya cepat terjual karena saya menargetkan setiap hari harus ada transaksi berapapun nilainya, tetapi hasilnya tetap nihil.  Hingga tibalah saat terbenamlah matahari sayapun tertunduk lesu karena biasanya pada malam hari orang agak jarang berbelanja, ternyata siang itu saya lalai sholat sayapun kemudian tersadar dan segera sholat maghrib kemudian setelahnya masuk waktu isya sayapun kembali sholat tetapi tetap nihil akhirnya sayapun berfikiran mungkin hari ini lagi sepi, akan tetapi apa yang teradi kemudian pas ketika saya beres-beres mau pulang dan tutup datanglah orang berbelanja dengan nominalnya melebihi dari yang saya harapkan/targetkan. Kejadian-keadian seperti inilah yang membuat saya optimis bisa berbisnis (bisa dibilang saya masih belajar berbisnis).
Pengalaman berbisnis saya juga telah mampu membentuk kekuatan positif thinking saya dan keyakinan saya dalam beragama. Manusia memang cenderung baru butuh Tuhan ketika sulit, dalam dunia bisnis kesulitan atau tantangan itu senantiasa hadir setiap hari, tidak ada yang pasti dalam bisnis, karena itulah campur tangan Tuhan amat sangat dibutuhkan.
Melihat mereka-mereka yang sudah terlebih dahulu sukses dari saya, menurut saya ada kesamaannya (benang merah) diantara mereka semua. Selain ulet mereka juga sangat dekat dengan Tuhannya, terlepas dari apapun motivasi mereka dalam beribadah 1 hal yang saya ambil hikmah ternyata Tuhan sangat menyayangi dan mendukung mereka yang berbisnis buktinya mereka bisa sukses sejahtera (melebihi mereka yang karyawan), dan mampu berbagi dengan yang lainnya itulah kenapa pengusaha besar dan sukses pastilah memiliki yayasan sosial (wujud syukur mereka). Wajarlah kiranya Tuhan lebih membantu mereka para Bisnisman,  karena dengan berbisnis kita bisa mengakui keberadaan-Nya dengan senantiasa berdo’a dan setelah sukses bisa jadi lebih rajin bersyukur, mungkin karena itulah contoh tauladan kita Nabi Muhammad SAW  juga melakukan bisnis untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, kesimpulannya dengan berbisnis hubungan vertikal dan horizontal  manusia bisa berjalan dan seimbang.